Kabar Terbaru Hari Ini: Rumah ke Rumah

Pandemi memaksa kita semua karantina atau berdiam di dalam rumah. Sementara, berdamai dengan rumah buat sebagian dari kita bukan hal yang mudah sebab kondisi rumah tidak selalu kondusif. Seperti dilansir dari situs resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tidak kurang dari 3,000 kasus kekerasan terjadi selama enam bulan saja. Apakah ini berarti rumah bukan lagi ruang aman? Apa sih sebetulnya makna rumah?

Kami telah melakukan wawancara dengan beberapa narasumber untuk membahas makna rumah menurut mereka. Simak ya!

“Kalau buat saya rumah itu ya pusat kehidupan. Sentral. Rumah merekam memori, merekam rasa, bahkan jadi rekan dialog jiwa,” kata Kura-Kura yang tengah sibuk membersihkan gigi saat kami mendatangi kediamannya, Senin (30/8/2021).

Pihaknya menambahkan, bahwa rumah bukanlah “thing” melainkan “being” yang turut tumbuh membersamainya. “Saya katakan tadi, rumah itu rekan dialog jiwa. Sehari-hari ya rumah ini teman dialog saya. Ukurannya mengikuti ukuran saya, tumbuh bareng, ya apa ya? Bayangkan, saat takut atau cemas, saya perlu sembunyi dari dunia. Tetapi bersama rumah, ya saya jadi diri sendiri. Tidak sembunyi, tidak cemas. Begitu, saya kira tidak berlebihan kalau rumah adalah rekan dialog jiwa.”

Berbeda dengan kura-kura yang begitu lekat dengan rumahnya, lebah justru memiliki pendapat lain. “Gue nggak pinter ngomong, pinternya kerja, jadi simple aja ya.” Lebah terkekeh.

Ia melanjutkan penjelasannya, “Pokoknya gini, kalau gue lihatnya, rumah itu bukan tempat kembali, bukan tempat santai-santai, tidur-tidur gitu ya. Rumah itu ya tempat berkarya, tempat lo bisa bikin apa saja, bebas. Lebah macem gue gini bisa terbang puluhan atau bahkan ratusan kilometer, tapi ujungnya-ujungnya dibawa ke rumah untuk dikaryakan.”

Lebah yang ketika diwawancara baru saja pulang bersama koloni pencari nektar ini juga menekankan bahwa peran rumah itu ruang mengabdi. Seluruh pengabdian ya harusnya di rumah, dipimpin Her Majesty Queen B. Hal penting lain dari rumah menurutnya adalah tentang relasi. “Di rumah, kita kan interaksi sama siapa aja. Kalau lagi berburu kan nggak mungkin, kita fokus. Di rumah ini, di waktu senggang kita bisa ngobrol sesama pekerja. Yah dari kerja ini lah kita tahu sifat aslinya. Orang pasti mengira lebah itu rajin semua, gigih gini-gini. Padahal ya ngga semua. Lebah ya ada juga yang (maaf ya) malas-malas nggak mau maju. Ada”

Di lokasi berbeda, kami kemudian bertemu dengan sosok lain dengan rumahnya yang ikonik. Siput.

“Aku kalau ditanya rumah itu apa agak sentimentil ya karena aku lekat sekali dengannya, memang. Kalimat dari lagu Nadin Amizah yang judulnya ‘Bertaut’ aku rasa bisa menggambarkan.”

Seperti detak jantung yang bertaut

Nyawaku nyala karena denganmu

Mendengar Siput bercerita tentang perspektif rumah, ada rasa haru mendalam yang tergambar dari matanya yang berkaca-kaca dan suaranya yang parau.

“Rumah itu selalu berhasil memberi sense of existing ke aku. Istilahnya ‘aku di rumah, maka aku ada’. Aku kan memang bisa mati kalau tidak ada rumah. Mati secara harfiah, gone.” Siput tertawa penuh getir. “Tapi aku nggak sedih, karena itu berarti rumah selalu bisa jadi pengingat yang indah bahwa hidup di dunia itu kesementaraan. Aku sering dibilang lambat lah, lemot lah, padahal yang aku lakukan itu ya menikmati setiap momen, memaknai semua semua yang aku lakukan karena disini cuma sementara. Jadi setiap tempat yang ada jejak kita itu, kita ingat. Walau nanti sudah hidup di dimensi yang lain.”

Begitulah kira-kira rangkuman dari percakapan rumah ke rumah. Kita semua seringkali sibuk mencari dimana rumah, siapa yang menjadi rumah. Padahal justru mungkin, kita hanya perlu pulang ke dalam diri.